Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Komik SIBENI Edukasi Bencana Ramah Anak dari Mahasiswa UB di Lumajang

KOTA MALANG – Di wilayah rawan bencana seperti Desa Klakah, Kecamatan Klakah, Lumajang, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Inovasi kreatif dari Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya pun hadir menjawab tantangan tersebut melalui media yang tidak biasa, komik edukasi bencana.

Adalah Muhammad Fauzan Nursobar Sudarjat, anggota Kelompok 76 MMD UB 2025, yang menggagas SIBENI, singkatan dari Siaga Bencana Sejak Dini. Komik ini memadukan ilustrasi berwarna dengan bahasa sederhana untuk menjelaskan penyebab gempa, prosedur penyelamatan diri, dan tips menjaga ketenangan saat bencana terjadi.

“Pendekatan visual ini membuat siswa tidak hanya membaca cerita, tetapi juga belajar secara interaktif. Mereka dapat mengingat langkah penyelamatan dengan lebih mudah,” ujar Fauzan saat ditemui di SDIT Nurul Islam Klakah, salah satu sekolah penerima program ini.

Tidak berhenti di komik, Fauzan juga melengkapi edukasi dengan poster panduan keselamatan yang dipasang di titik strategis sekolah. 

Mulai dari ruang kelas hingga area publik, poster ini menjadi pengingat visual yang selalu bisa dilihat siswa, guru, maupun tenaga kependidikan.

Kepala SDIT Nurul Islam Klakah, Nurul Tofikin, S.Pd., menilai program ini sangat relevan. 

“Wilayah kami berada di zona rawan bencana, sehingga materi seperti ini sangat dibutuhkan. Harapan kami, kegiatan ini bisa dilakukan secara rutin,” ujarnya.

Desa Klakah berada di jalur yang kerap merasakan dampak aktivitas tektonik dan vulkanik dari Gunung Semeru dan Gunung Lemongan. 

Gempa dan letusan bisa datang tanpa peringatan panjang, sehingga membangun kesadaran sejak dini menjadi langkah vital.

Program SIBENI juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yakni pendidikan berkualitas dan inklusif. 

Dengan metode pembelajaran yang menyenangkan, anak-anak tidak hanya dibekali keterampilan menyelamatkan diri, tetapi juga diharapkan menjadi penyampai informasi kebencanaan bagi keluarga dan lingkungan mereka.

“Budaya sadar bencana harus menjadi bagian dari keseharian, terutama bagi generasi muda,” tegas Fauzan.

Pendekatan kreatif seperti SIBENI membuktikan bahwa edukasi bencana tak harus menegangkan. 

Justru lewat media yang sesuai karakter anak, pesan keselamatan dapat tersampaikan dengan efektif, bertahan lama di ingatan, dan kelak menjadi kebiasaan yang menyelamatkan nyawa.(DF)*

library_books Dafa Wahyu Pratama /ub