Pada tanggal 15 Januari 2025, pasukan Israel melakukan serangan yang lebih intensif di Gaza. Dalam serangan terbaru ini, empat warga Palestina dilaporkan tewas di Rafah, tiga orang di kamp pengungsi Bureij, dan tujuh lainnya di sebuah sekolah yang dijadikan tempat penampungan di Kota Gaza.
Meski serangan ini terus berlangsung, para mediator menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata semakin dekat. Rincian dari draf kesepakatan menunjukkan bahwa Hamas berencana untuk membebaskan 33 tahanan sebagai imbalan atas pembebasan ratusan tahanan Palestina dalam enam minggu awal gencatan senjata.
Di Tel Aviv, ribuan orang melakukan protes menuntut kesepakatan tersebut, sementara ratusan orang di Yerusalem mendesak Perdana Menteri Netanyahu untuk menolak tawaran itu.
Organisasi Kesehatan dan Kemanusiaan PBB (OCHA) memberikan peringatan bahwa rumah sakit, sistem air, dan sanitasi di Gaza berada di ambang keruntuhan akibat krisis bahan bakar yang semakin parah. Situasi ini membuat banyak warga Gaza kesulitan mendapatkan akses ke layanan kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya.
Organisasi Save the Children juga mengutuk penggunaan senjata peledak oleh Israel. Laporan mereka mengungkapkan bahwa serangan tersebut menyebabkan sekitar 475 anak-anak di Gaza mengalami kecacatan setiap bulan tahun lalu, yang berarti sekitar 15 anak setiap hari. Hal ini dapat mengakibatkan konsekuensi seumur hidup bagi para korban.
Dengan situasi yang semakin memburuk di Gaza, harapan untuk perdamaian masih ada, tetapi tantangan besar tetap di depan. Semua mata kini tertuju pada perkembangan lebih lanjut terkait gencatan senjata dan dampaknya terhadap kehidupan warga sipil.
Israel Palestina gencatan senjata Gaza konflik