Masyarakat Indonesia saat ini lebih memilih untuk membeli mobil bekas ketimbang mobil baru. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, terutama harga yang lebih terjangkau dan fitur yang tetap baik pada mobil bekas.
Sekretaris Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa pendapatan per kapita masyarakat Indonesia tidak dapat mengejar kenaikan harga mobil baru. Rata-rata harga mobil baru meningkat sekitar 7,5 persen setiap tahun, sedangkan pendapatan masyarakat hanya naik sekitar 3 persen, yang sejalan dengan inflasi.
Kukuh menyatakan, "Kondisi ini membuat masyarakat merasa kesulitan untuk membeli mobil baru. Sehingga, banyak yang beralih ke mobil bekas yang lebih sesuai dengan anggaran mereka."
Dengan adanya jasa inspeksi yang lebih terbuka di pasar mobil bekas, masyarakat kini merasa lebih tenang saat membeli. Mereka bisa mengetahui kondisi mobil secara jelas, termasuk cacat yang ada, bekas baret, dan apakah mobil tersebut pernah terkena banjir atau tidak.
Kukuh memperkirakan bahwa penjualan mobil bekas bisa mencapai 1,8 juta unit per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa mobil bekas menjadi pilihan yang semakin populer di kalangan masyarakat kelas menengah.
Di sisi lain, penjualan mobil baru mengalami penurunan sepanjang tahun 2024. Beberapa faktor seperti pemilu dan regulasi dari pemerintah membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membeli mobil baru. Gaikindo juga mengungkapkan keraguan bahwa penjualan mobil baru dapat mencapai angka 1 juta unit pada tahun ini.
Tambahan lagi, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen juga menjadi salah satu alasan yang membuat masyarakat menunda pembelian mobil baru.
Dengan kondisi ini, dapat dipastikan bahwa pasar mobil bekas akan terus berkembang dan menjadi pilihan utama bagi banyak orang di Indonesia.
mobil bekas mobil baru Gaikindo penjualan mobil Indonesia