Kota Kherson, yang terletak di selatan Ukraina, mengalami masa sulit setelah dibebaskan dari okupasi Rusia pada November 2022. Sebelum pembebasan, kota ini telah berada di bawah kendali Rusia selama delapan bulan. Namun, kini sekitar 80.000 penduduk yang masih tinggal di Kherson menghadapi tantangan baru yang lebih menakutkan.
Selama enam bulan terakhir, serangan drone Rusia telah berlangsung setiap hari, menargetkan warga sipil di jalanan kota. Serangan ini tidak hanya mengancam keselamatan, tetapi juga menciptakan ketakutan di kalangan penduduk setempat. Menurut otoritas setempat, telah terjadi lebih dari 1.000 serangan sejak musim panas lalu, yang mengakibatkan lebih dari 500 orang terluka dan 36 orang kehilangan nyawa.
Serangan yang menargetkan warga sipil bisa dianggap sebagai kejahatan perang. Hal ini menunjukkan bahwa Rusia mungkin menggunakan strategi ini untuk mencoba mengurangi jumlah penduduk di daerah tersebut. Kondisi ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Kherson, di mana masyarakat yang sudah menderita akibat okupasi, kini harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah ancaman yang terus menerus.
Dengan semakin seringnya serangan ini, banyak penduduk merasa tidak aman untuk keluar rumah, dan mereka yang terpaksa keluar harus selalu waspada terhadap ancaman dari udara. Situasi ini menciptakan rasa putus asa dan ketidakpastian di kalangan warga Kherson.
Banyak organisasi internasional mengecam tindakan Rusia yang dianggap tidak manusiawi ini. Mereka menyerukan agar semua pihak menghormati hukum internasional yang melindungi warga sipil dalam konflik bersenjata.
Dengan kondisi yang semakin sulit, penting untuk terus memperhatikan perkembangan di Kherson dan dampaknya terhadap situasi perang di Ukraina. Masyarakat internasional diharapkan dapat memberikan dukungan kepada warga yang terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya ini.
Kherson Ukraina serangan drone warga sipil Rusia