Pada tanggal 24 Januari, kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Setidaknya tujuh anak Palestina dilaporkan meninggal akibat cuaca dingin yang ekstrem sejak gencatan senjata dimulai pada hari Minggu. Laporan ini disampaikan oleh badan PBB yang menangani pengungsi Palestina, UNRWA. Cuaca dingin ini menambah penderitaan yang sudah dialami oleh anak-anak di wilayah tersebut.
Konflik yang berkepanjangan juga berimbas pada kekuatan Hamas, yang telah merekrut antara 10.000 hingga 15.000 petarung baru sejak pecahnya perang di Gaza, menurut informasi dari Reuters yang mengutip sumber-sumber intelijen di Kongres AS. Hal ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan semakin kompleks dan berbahaya.
Di sisi lain, Israel telah memberlakukan larangan terhadap UNRWA yang akan berdampak pada sekitar 50.000 anak Palestina yang terancam kehilangan akses pendidikan. Penutupan operasi UNRWA di Yerusalem dijadwalkan pada 30 Januari, sesuai dengan surat yang dikirim oleh utusan Israel kepada Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.
Sejak awal Januari, pasukan Israel juga telah menewaskan 34 warga Palestina, termasuk enam anak, di Tepi Barat yang diduduki. Mustafa Barghouti, Sekretaris Jenderal Gerakan Inisiatif Nasional Palestina, menuduh Israel melakukan "pembersihan etnis" di kamp pengungsi Jenin.
Akibat operasi militer Israel di Jenin, sekitar 1.800 warga Palestina terpaksa meninggalkan kamp pengungsi tersebut. Ini merupakan langkah yang diambil oleh Israel untuk memperketat pengawasan di area tersebut.
Organisasi Doctors Against Genocide melaporkan bahwa Israel telah menghalangi keluar 11 dokter dan perawat asal Amerika dari Gaza. Mereka mendesak pemerintah AS, komunitas internasional, dan organisasi kemanusiaan untuk memastikan evakuasi yang aman bagi para tenaga medis ini.
Sementara itu, Hamas juga mengkritik keputusan Washington yang mengklasifikasikan gerakan Houthi di Yaman sebagai "organisasi teroris asing", yang dianggapnya sebagai tindakan balas dendam yang bermotif politik.
Situasi di Gaza dan sekitarnya menunjukkan betapa sulitnya kehidupan bagi warga sipil, terutama anak-anak, yang menjadi korban dari konflik yang berkepanjangan.
Gaza anak-anak konflik Palestina Israel UNRWA