Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Kenangan Perjalanan Soeharto ke Bosnia di Tengah Perang

Pada 27 Januari 2008, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, wafat. Namun, perjalanan bersejarahnya ke Bosnia pada awal dasawarsa 1990-an, ketika perang saudara Bosnia-Herzegovina sedang berlangsung, masih diingat oleh banyak orang. Dalam perjalanan ini, Soeharto menandatangani sebuah formulir yang dikenal sebagai "kontrak mati".

Soeharto berniat menunjukkan simpati kepada kaum muslim di Bosnia yang saat itu merupakan minoritas dan menjadi sasaran kelompok lain. Menurut artikel yang ditulis Arnaz Ferial Firman pada 7 Februari 2008, Soeharto merasa perlu untuk melakukan sesuatu untuk mendukung mereka yang teraniaya.

Setelah rombongannya tiba di Eropa, sebuah pesawat yang dimiliki PBB ditembak pada 11 Maret 1995. Meskipun keadaan sangat berbahaya, Soeharto tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan ke Bosnia pada 13 Maret. Dalam rombongan tersebut, Soeharto didampingi oleh beberapa pejabat penting, termasuk Moerdiono dan Ali Alatas, serta diplomat senior dan ajudan.

Sebelum terbang, seluruh rombongan diberikan formulir berbahasa Inggris yang harus mereka tandatangani. Formulir ini menyatakan bahwa PBB tidak akan bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama penerbangan. Soeharto dan beberapa pejabat lainnya pun menandatangani formulir tersebut sebagai tanda persetujuan.

Setelah terbang sekitar satu jam, pesawat yang ditumpangi Soeharto akhirnya mendarat dengan selamat di Sarajevo, ibu kota Bosnia. Meskipun tidak diadakan konferensi internasional mengenai penyelesaian masalah Bosnia seperti yang sebelumnya direncanakan, perjalanan ini tetap dikenang sebagai sebuah langkah berani dari Presiden Soeharto.

"Alhamdulillah, Tuhan melindungi saya dan rombongan," kata Soeharto ketika ditanya tentang keberaniannya pergi ke Bosnia meskipun keadaan keamanan yang gawat.

Lawatan ini tidak hanya berakhir dengan pengalaman bersejarah, tetapi juga menghasilkan sebuah masjid di ibu kota Bosnia yang dikenal sebagai Masjid Soeharto atau Masjid Indonesia. Masjid ini menjadi simbol dukungan Indonesia terhadap komunitas muslim di Bosnia. Perjalanan Soeharto ke Bosnia menjadi salah satu momen penting dalam sejarah hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan Balkan.

library_books Antaradata