Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Pentingnya Tahap Cermin dalam Perkembangan Anak

Jakarta, 28 Januari 2025 – Salah satu pemikiran awal Jacques Lacan yang sangat berpengaruh adalah konsep yang disebutnya sebagai "tahap cermin". Tahap ini merupakan momen penting dalam perkembangan anak, terutama ketika seorang balita pertama kali mengenali dirinya sendiri dalam cermin.

Menurut Lacan, pengakuan diri ini bukanlah hal yang sederhana. Ia berpendapat bahwa pembentukan citra diri—yang menjadi dasar bagi ego kita—pada dasarnya adalah sebuah kesalahan. Proses pengenalan diri ini, yang disebutnya sebagai misrecognition atau kesalahan pengenalan, menunjukkan bahwa ketika kita mengidentifikasi diri kita dengan citra yang kita lihat di cermin, kita sebenarnya menganggap diri kita sebagai sesuatu yang lain dan lebih sedikit dari apa yang kita sebenarnya. Ego—yang kita anggap sebagai diri kita—sebenarnya adalah sesuatu yang asing, yaitu citra dari orang lain. Ini sejalan dengan ungkapan penyair Rimbaud: "Je est un autre" atau "Aku adalah orang lain".

Penting untuk dicatat bahwa proses yang dijelaskan dalam tahap cermin ini tidak hanya terjadi sekali saat masa kanak-kanak, tetapi berlangsung sepanjang hidup kita. Rasa siapa kita dibangun dari pengenalan diri yang berlapis-lapis, yang sering kali terasa mengasingkan. Identitas kita tidak dapat disederhanakan menjadi ego; dengan kata lain, subyektivitas dan ego tidak identik, di mana yang pertama melampaui dan mencakup yang kedua. Identitas kita—dengan koherensi dan kesatuan yang tampaknya nyaman—selalu didasarkan pada tindakan pengecualian.

Dalam psikologi, kita bisa mengeksplorasi cara-cara di mana kita adalah lebih dari sekadar diri kita sendiri; cara-cara di mana kita tidak selaras dengan diri kita. Dengan mengikuti aturan dasar analisis—untuk mengungkapkan apa pun yang terlintas dalam pikiran, tanpa menyensor atau menghakimi—kita dapat mengamati momen-momen ketika kita mengungkapkan sesuatu yang berbeda dari yang kita maksudkan (seperti dalam istilah Freudian slip), serta menginterpretasikan gejala-gejala yang merupakan bentuk komunikasi alternatif.

Seiring waktu, proses ini dapat menyebabkan ego kehilangan sebagian daya tarik narsistiknya, kekuatan pesonanya, dan daya tarik yang menenangkan. Hal ini mungkin memungkinkan kita untuk lebih mudah, dan dengan rasa ingin tahu yang lebih tinggi, berpaling dari pertanyaan tentang siapa kita—yang selalu berkaitan dengan siapa kita di mata orang lain—ke pertanyaan tentang apa yang kita inginkan.

Dengan memahami dan merenungkan tahap cermin ini, kita dapat lebih dalam mengenali diri kita dan hubungan kita dengan orang lain, serta memperluas pemahaman tentang keinginan dan identitas kita.

library_books Drjasonchilds