SINGAPURA - Sebuah video yang dipublikasikan oleh New York Times mengenai "tirani" di empat negara, yang menampilkan Li Shengwu, cucu perdana menteri pendiri Singapura Lee Kuan Yew, telah memicu kemarahan pemerintah Singapura. Video opini berjudul "How Tyranny Begins" ini mulai beredar di media sosial segera setelah dirilis pada Rabu lalu.
Dalam video tersebut, Li mengekspresikan pandangannya bahwa tirani tidak dimulai dengan "pengisian kotak suara" tetapi dengan "pembalasan". Ia menuduh Menteri Senior Singapura, Lee Hsien Loong, menggunakan polisi dan penuntutan kriminal untuk "menyingkirkan atau mengasingkan lawan-lawannya".
Li, yang merupakan keponakan dari Menteri Senior Lee, juga menceritakan pengalaman pribadinya. Dia mengungkapkan bahwa ia dikenakan denda karena sebuah unggahan di media sosial yang hanya dibagikan kepada teman-temannya. Dalam klip tersebut, Li mengungkapkan, "Saya melarikan diri dari negara ini secepat yang saya bisa."
Reaksi pemerintah Singapura terhadap video ini cukup tegas. Mereka menganggap bahwa pernyataan yang dibuat oleh Li adalah tidak berdasar dan berusaha untuk mendiskreditkan negara. Pemerintah Singapura dikenal ketat dalam mengawasi kebebasan berbicara dan kritik terhadap otoritas, sehingga pernyataan Li mendapatkan perhatian luas dan memicu perdebatan publik.
"Jika dia (Li) mau, dia bisa ikut serta dalam pemilu umum berikutnya," kata seorang pejabat pemerintah, merespons pernyataan Li tentang penekanan terhadap oposisi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah terbuka untuk membiarkan Li berpartisipasi dalam proses politik, meskipun ada ketegangan yang terjadi.
Video ini telah menarik perhatian banyak orang di seluruh dunia, terutama mengenai bagaimana pemerintahan dapat menggunakan kekuasaan untuk membungkam kritik. Banyak pengguna media sosial mengecam tindakan pemerintah Singapura dan mendukung kebebasan berbicara.
Kisah Li ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh mereka yang berani berbicara menentang kekuasaan di negara yang memiliki sejarah panjang dalam pengawasan ketat terhadap kebebasan sipil. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi, suara-suara seperti Li dapat menjangkau audiens yang lebih luas, memicu diskusi tentang demokrasi dan hak asasi manusia di seluruh dunia.
video New York Times Singapura Li tirani