Rusia sedang mempersiapkan langkah untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad. Hal ini terungkap dari sumber yang dekat dengan masalah ini, sebagaimana dilaporkan oleh Middle East Eye.
Pada hari Selasa, sebuah delegasi Rusia yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Bogdanov dan utusan khusus Kremlin untuk Suriah, Alexander Lavrentiev, mengunjungi Damaskus. Mereka bertemu dengan pemimpin de facto Suriah, Ahmed al-Sharaa.
Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, pertemuan tersebut berlangsung dengan diskusi yang jujur mengenai berbagai isu. Pihak Suriah menekankan bahwa pemulihan hubungan harus mempertimbangkan kesalahan masa lalu dan menghormati keinginan rakyat Suriah.
Sumber yang mengetahui tentang pembicaraan tersebut menyebutkan bahwa Rusia ingin mempertahankan pangkalannya di Tartus dan pangkalan udara Hmeimim yang terletak dekat kota pelabuhan Latakia. Namun, Moskow percaya bahwa ada langkah-langkah lain yang harus diambil terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah tersebut.
Menurut sumber tersebut, Rusia juga ingin membuka kembali kedutaan besarnya di Damaskus, mengikuti langkah negara-negara Eropa dan negara-negara regional lainnya.
Sumber Suriah yang mengetahui tentang pembicaraan itu mengatakan bahwa Damaskus meminta delegasi Rusia untuk mengembalikan Bashar al-Assad ke Suriah dan menuntut kompensasi untuk kerusakan yang disebabkan oleh militer Rusia selama perang.
Selama perang, Rusia merupakan salah satu pendukung utama Assad. Intervensi Rusia pada tahun 2015 tampaknya telah mengubah arah konflik ke arah keuntungan Assad, sampai serangan mendadak oleh pemberontak di akhir tahun lalu yang membuat kekuasaan keluarga Assad selama 50 tahun berakhir dalam 12 hari.
Rusia Suriah hubungan diplomatik Bashar al-Assad