Kairo, Mesir - Sejak menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terus mendorong negara-negara Muslim seperti Mesir dan Yordania untuk menerima pemukim Palestina dari Gaza. Namun, usulan tersebut ditolak keras oleh rakyat Palestina. Berita ini menjadi sorotan utama di hampir semua surat kabar Israel.
Pada hari Sabtu, para menteri luar negeri dan pejabat dari Mesir, Yordania, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Otoritas Palestina, dan Liga Arab berkumpul untuk menanggapi usulan Trump. Mereka menyatakan bahwa rencana tersebut dapat mengancam stabilitas kawasan, memperburuk konflik, dan merusak harapan untuk perdamaian.
Di tengah berbagai pembicaraan tentang pembersihan etnis, rakyat Palestina tetap teguh. Di utara Gaza, terlihat pemandangan yang mengharukan. Seorang pria berusia 80 tahun terlihat berjalan kembali ke rumahnya setelah terpaksa mengungsi ke selatan. Gambar ini mengingatkan pada Nakba, saat ratusan ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat tindakan milisi Zionis.
Namun, suasana kali ini berbeda. Rakyat Palestina menunjukkan keyakinan yang kuat bahwa mereka tidak akan hilang, terlepas dari betapa sulitnya keadaan yang mereka hadapi.
Media Israel melaporkan kebangkitan semangat ini dengan reaksi yang beragam, banyak di antara mereka yang merasa cemas melihat ketahanan rakyat Palestina. Gambar-gambar pemulangan warga Palestina ke rumah mereka yang hancur akibat bombardir menjadi jawaban paling kuat terhadap rencana Trump yang dianggap rasis dan merendahkan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya masih menjadi tanda tanya. Namun, satu hal yang pasti: semangat rakyat Palestina untuk bertahan hidup dan kembali ke rumah mereka tidak akan padam.
Palestina Trump Gaza stabilitas konflik