Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Menggali Pemikiran Gerhard von Rad tentang Perjanjian Lama

Pada tahun 2025 ini, kita masih bisa belajar banyak dari pemikiran Gerhard von Rad mengenai Perjanjian Lama. Dalam dunia kritik sejarah, terdapat dua pendekatan yang berbeda. Salah satunya berusaha untuk mengupas setiap cerita hingga ke bagian paling dasar. Misalnya, peristiwa pergulatan Yakub dianggap hanya sebagai kisah tentang dewa sungai pagan yang kemudian diolah oleh tangan penulis belakangan. Sedangkan kisah Keluaran dianggap sebagai kumpulan kenangan nomaden yang disusun secara sembarangan, mirip dengan sebuah quilt tua. Dalam pandangan ini, lapisan editorial dipandang sebagai gangguan, dan penulis akhir hanya dianggap sebagai pengacau. Teks akhir yang dihasilkan pun dianggap sebagai sebuah distorsi, bukan wahyu.

Namun, Gerhard von Rad mengambil jalan yang berbeda. Ia tidak hanya memotong pohon untuk menemukan bijinya, tetapi juga mempelajari bagaimana lingkaran-lingkaran pertumbuhannya. Baginya, Perjanjian Lama bukanlah palimpsest yang diisi oleh berbagai tangan yang bersaing, melainkan sebuah simfoni dari suara-suara yang saling berkonvergensi. Tradisi patriarkal, pembebasan Keluaran, reformasi Deuteronomis, dan kepemimpinan Daud—semuanya dimulai dari nada yang berbeda, tetapi seiring waktu, mereka tidak saling membatalkan, melainkan saling melengkapi.

Tradisi patriarkal merupakan yang tertua, dengan akar yang dalam di dalam ingatan. Dari sana, muncul Keluaran dan Sinai, yang menjadi batang besar dari iman Israel. Dari batang itu, bercabanglah harapan-harapan Daud dan mesianik, serta jeritan para nabi yang liar dan tertiup angin. Kebijaksanaan dan apokalips, yang paling terakhir berkembang, menebar benih mereka ke masa depan. Apa yang dimulai sebagai potongan-potongan terpisah kini menjadi sebuah struktur yang utuh.

Apa inti dari teologi Perjanjian Lama ini? Bahwa pada awalnya, manusia berjalan bersama Tuhan, namun kemudian tersesat jauh. Bahwa Tuhan memilih suatu umat, bukan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi untuk menjadi cahaya bagi bangsa-bangsa. Bahwa Israel, yang dipanggil untuk berjanji, berkali-kali melanggar perjanjian tersebut. Bahwa hukuman dijatuhkan, namun kasih sayang selalu menyusul. Bahwa hukum, yang dulunya terukir di atas batu, akan dituliskan di dalam hati. Bahwa dari garis keturunan Daud akan muncul seorang Mesias—seorang imam, nabi, dan raja—yang tidak hanya akan memulihkan tetapi juga memperbarui, tidak hanya memerintah tetapi juga menebus. Bahwa pada akhirnya, dunia itu sendiri akan diperbarui, dan nama Yahweh akan bergema di setiap bahasa.

Setelah tujuh puluh lima tahun, mengapa kita masih membaca karyanya? Arkeologi telah mempertanyakan banyak klaim sejarah dari Israel kuno, tetapi visi Von Rad tetap kuat. Karyanya tidak pernah tentang membuktikan asal-usul, tetapi tentang mengungkapkan koherensi. Sejarah mungkin memudar; tetapi teologi tetap ada. Ingatan Von Rad—bukan sejarah yang membeku, tetapi iman yang diingat—masih membentuk cara kita membaca. Mempelajari Perjanjian Lama tanpa Von Rad adalah mungkin, tetapi untuk memahaminya tanpa beliau adalah hampir tidak mungkin.

library_books Arancanes