Surabaya, Jawa Timur – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa ia tidak akan menghiraukan pihak-pihak yang berusaha memisahkan dirinya dari Presiden ke-7, Joko Widodo. Pernyataan tersebut disampaikan saat Prabowo memberikan sambutan pada Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Surabaya, pada hari Senin.
Dalam sambutannya, Prabowo menyampaikan pentingnya menjaga hubungan baik dan saling menghormati di dunia politik. "Jadi memang kalau politik ya saya belajar dari Pak Jokowi. Enggak usah malu-malu lah. Kadang-kadang orang sudah nggak berkuasa mau dijelek-jelekin, jangan. Kita hormati semua, hormati semua," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmennya untuk tetap bersikap positif meskipun ada tekanan atau komentar negatif dari pihak lain.
Hubungan antara Prabowo dan Jokowi dikenal cukup baik, meskipun keduanya memiliki latar belakang politik yang berbeda. Prabowo yang merupakan Menteri Pertahanan saat ini, dan Jokowi, Presiden yang sudah menjabat selama dua periode, telah bekerja sama dalam berbagai isu penting di negara ini. Kerjasama ini diharapkan dapat terus terjalin demi kepentingan bangsa dan negara.
Kongres XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama merupakan acara penting yang dihadiri oleh banyak tokoh masyarakat dan pejabat negara. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mengingatkan pentingnya persatuan dan kesatuan di antara semua elemen bangsa, terutama di tengah situasi politik yang dinamis saat ini.
Dengan pernyataan tersebut, Prabowo berharap agar masyarakat bisa melihat hubungan baik antara dirinya dan Jokowi sebagai contoh positif dalam berpolitik, di mana saling menghargai dan menghormati antar pemimpin sangatlah penting.
Melalui sikapnya yang terbuka dan positif, Prabowo Subianto menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk memisahkan dirinya dari Jokowi, ia tetap berkomitmen untuk menjaga kerjasama dan hubungan baik demi kemajuan Indonesia.
Prabowo Subianto Joko Widodo hubungan politik Kongres Muslimat NU