JAKARTA - Gerakan Ansarullah Yaman, yang lebih dikenal dengan sebutan Houthi, menyatakan bahwa mereka siap untuk bertindak melawan Israel jika negara tersebut melanjutkan serangan militer ke Jalur Gaza. Pernyataan ini datang sebagai respon terhadap kemungkinan terulangnya konflik di wilayah tersebut dan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, memberikan peringatan tegas bahwa meskipun Israel mendapatkan dukungan yang besar dari Amerika Serikat, mereka akan menghadapi berbagai konsekuensi yang serius. "Israel akan menghadapi konsekuensi keamanan, militer, maupun ekonomi jika eskalasi konflik kembali terjadi," ungkap al-Houthi. Ini menunjukkan bahwa Houthi tidak akan tinggal diam jika situasi semakin memburuk.
Al-Houthi juga menekankan bahwa jika Israel melanjutkan invasi baru ke Gaza, hal tersebut tidak akan mudah bagi pemimpin rezim Zionis, Benjamin Netanyahu. Pernyataan ini mencerminkan keyakinan Houthi bahwa mereka memiliki kekuatan untuk melawan dan memberikan perlawanan terhadap Israel jika diperlukan.
Selain itu, al-Houthi mengecam rencana yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengusir paksa rakyat Palestina dari Jalur Gaza. Ia menyebut rencana tersebut sebagai "proyek destruktif dan agresif" yang bertujuan untuk merebut tanah Palestina dari umat Islam. Hal ini menunjukkan sikap Houthi yang sangat mendukung perjuangan rakyat Palestina dan menolak segala bentuk penindasan.
Dengan situasi yang semakin tegang di Timur Tengah, sikap Houthi ini bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi dinamika konflik di kawasan tersebut. Sebagai organisasi yang memiliki pengaruh di Yaman dan sekitarnya, Houthi berkomitmen untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dan menentang tindakan yang mereka anggap tidak adil.
Houthi Israel Gaza serangan militer Abdul Malik al-Houthi