Pernyataan terbaru dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai rencananya untuk "mengambil alih" Jalur Gaza dan memindahkan penduduk Palestina ke negara lain, telah memicu reaksi bingung dan marah di seluruh dunia. Rencana ini diungkapkan minggu lalu dan langsung ditolak oleh banyak pihak, termasuk kelompok Hamas.
Hamas menyatakan bahwa rencana Trump bertujuan untuk menghapuskan perjuangan Palestina. Mereka menganggap langkah ini sebagai upaya untuk menghilangkan hak-hak rakyat Palestina. Selain itu, negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania juga menolak rencana tersebut. Para pemimpin, menteri luar negeri, dan sejumlah pejabat senior dari kedua negara menyatakan penolakannya dengan tegas.
Tokoh-tokoh Arab terkemuka menekankan betapa seriusnya pernyataan presiden AS tersebut. Dokter Palestina-Britania, Ghassan Abu-Sittah, berkomentar bahwa Trump telah "menormalkan" pembersihan etnis. Pernyataan ini menunjukkan betapa besar kekhawatiran akan dampak dari rencana yang diusulkan.
Mustafa Barghouti, pemimpin Inisiatif Nasional Palestina, juga menyatakan bahwa "rakyat Palestina tidak akan menyerahkan tanah air mereka dan tidak akan membiarkan diri mereka dipindahkan dari Jalur Gaza." Ia menambahkan bahwa "pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina adalah kejahatan perang yang tidak akan dibiarkan begitu saja."
Seorang jurnalis, Yasser Abu Hilalalah, menegaskan bahwa Trump "harus memahami bahwa ini bukan sekadar masalah kepemilikan, tetapi sebuah perjuangan yang adil yang telah berlangsung selama satu abad dan terus berlanjut."
Sementara itu, Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, saat ini sedang dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam 15 bulan sejak ia mengumumkan perang terhadap Gaza, lebih dari 48.000 warga Palestina telah kehilangan nyawa.
Menurut badan PBB, OCHA, hampir seluruh rumah di Gaza telah rusak atau hancur akibat konflik. Meskipun mengalami kerugian besar, rakyat Palestina di Gaza dengan tegas menolak setiap rencana pemindahan, menyatakan tekad mereka untuk tidak membiarkan Israel melaksanakan Nakba lain, yang merupakan istilah untuk peristiwa pengusiran massal warga Palestina pada tahun 1948.
Trump Gaza Palestina reaksi global Hamas pemindahan penduduk