Serangan militer Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki telah menyebabkan sekitar 45.000 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Perang 1967, menurut para ahli hak asasi manusia.
Sejak musim panas lalu, Israel melancarkan ofensif brutal di wilayah tersebut. Militer Israel mendarat di bagian utara Tepi Barat menggunakan helikopter militer dan konvoi kendaraan lapis baja. Kota-kota seperti Jenin, Tulkarm, dan Tubas menjadi target utama serangan tersebut.
Serangan Israel semakin meningkat setelah gencatan senjata yang rapuh di Jalur Gaza ditandatangani pada bulan Januari. Bulan yang sama, militer Israel memulai serangan baru di Jenin dan daerah sekitarnya, yang mengakibatkan 25 warga Palestina tewas, menurut kementerian kesehatan Palestina.
Philippe Lazzarini, kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), menyatakan bahwa Israel telah meluncurkan setidaknya 38 serangan udara di Tepi Barat yang diduduki sejak Januari, yang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sebelumnya, serangan udara di wilayah ini sangat jarang terjadi hingga tahun 2024.
Israel memfokuskan serangannya pada kamp-kamp pengungsi seperti Jenin, Tulkarm, dan Tubas. Kamp-kamp ini dihuni oleh keturunan warga Palestina yang diusir pada tahun 1948, yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Nakba, atau bencana, saat negara Israel dibentuk.
Sekitar 750.000 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat tindakan milisi Zionis selama Nakba 1948. Saat ini, keturunan mereka menjadi sekitar tujuh juta pengungsi Palestina di seluruh dunia. Sekitar satu juta dari mereka tinggal di Tepi Barat yang diduduki, dan sekitar seperempat dari mereka tinggal di 19 kamp pengungsi.
UNRWA melaporkan bahwa beberapa kamp pengungsi telah "hampir kosong dari penghuninya". Badan tersebut menambahkan bahwa ini adalah kampanye terpanjang yang terjadi di wilayah itu sejak Intifada Kedua yang berlangsung dari tahun 2000 hingga 2005.
Israel Tepi Barat Palestina UNRWA pengungsi