Jepang telah resmi meminta pengecualian dari rencana tarif resiprokal yang akan diterapkan oleh Amerika Serikat (AS). Permohonan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, kepada rekannya dari AS, Marco Rubio, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Konferensi Keamanan Munich.
Dalam pernyataannya, Iwaya mengungkapkan, "Saya menyampaikan pikiran saya kepada Rubio bahwa Jepang seharusnya tidak menjadi salah satu negara yang dikenakan tarif timbal balik." Permintaan ini berkaitan dengan kebijakan tarif yang direncanakan oleh Washington untuk dikeluarkan dalam waktu dekat.
Rencana tersebut memuat tarif impor yang akan dikenakan AS kepada negara-negara lain, yang besarnya akan sama dengan tarif yang dikenakan negara tersebut terhadap barang-barang yang diimpor dari AS. Salah satu contoh tarif yang menjadi perhatian adalah tarif sebesar 25 persen yang akan dikenakan AS pada impor baja dan aluminium.
Gedung Putih berencana untuk meluncurkan kebijakan tarif resiprokal ini pada April 2025. Jika kebijakan ini diterapkan, maka Jepang akan menghadapi pengaruh signifikan terhadap perdagangan kedua negara, terutama dalam sektor industri baja dan aluminium.
Permintaan pengecualian dari Jepang menunjukkan upaya untuk menjaga hubungan baik antara kedua negara, terutama di tengah ketegangan perdagangan global. Jepang berharap agar bisa terlepas dari kebijakan yang dapat merugikan ekonomi mereka.
Dengan latar belakang ini, dunia akan terus mengamati perkembangan selanjutnya mengenai kebijakan tarif AS dan dampaknya terhadap negara-negara mitra, termasuk Jepang.
Jepang tarif resiprokal AS Iwaya Rubio