Pada hari Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 03.00 WIB, Indonesia mempersiapkan momen bersejarah. Menjelang sahur di bulan Ramadan, naskah proklamasi kemerdekaan dirumuskan di rumah Laksamana Maeda. Tokoh-tokoh penting seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Ahmad Soebardjo terlibat langsung dalam penulisan naskah tersebut.
Proses penulisan naskah dilakukan dengan cara yang unik. Bung Hatta, sebagai penggagas konsep isi, mendiktekan teks proklamasi, sementara Bung Karno menuliskannya dengan tangan. Setelah itu, naskah tersebut diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik, dengan bantuan Burhanudin Mohammad Diah.
Sementara naskah proklamasi sedang diketik, Soebardjo dan rekan-rekannya mengambil makanan dan minuman dari dapur. Makanan yang disiapkan oleh Satsuki Mishima, staf Laksamana Maeda, menjadi santapan sahur mereka. Menu sahur tersebut terdiri dari nasi goreng, ikan sarden, roti, dan telur.
Penting untuk dicatat bahwa naskah proklamasi mengalami beberapa perubahan. Kata 'Proklamasi' dalam naskah asli ditulis dengan spasi menjadi 'P R O K L A M A S I'. Selain itu, istilah 'Hal2' diubah menjadi 'Hal-hal', dan kata 'tempoh' menjadi 'tempo'. Tanggal juga ditulis ulang; 'Djakarta, 17 – 8 – ‘05' diubah menjadi 'Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05'. Terakhir, tulisan 'Wakil2 Bangsa Indonesia' diganti menjadi 'Atas Nama Bangsa Indonesia'.
Peristiwa ini menandai langkah awal Indonesia menuju kemerdekaan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia bukan hanya sekadar teks, tetapi juga simbol perjuangan dan harapan rakyat Indonesia untuk merdeka. Dengan demikian, sejarah ini penting untuk diingat dan dipelajari oleh generasi muda agar dapat menghargai perjuangan para pahlawan kita.
Proklamasi Kemerdekaan RI Bung Karno Bung Hatta