Washington D.C., 15 Maret 2025 – Amerika Serikat (AS) telah meminta Denmark untuk mengekspor telur, di tengah kekurangan telur yang disebabkan oleh flu burung. Permintaan ini datang dari Departemen Pertanian AS saat negara tersebut berjuang untuk memenuhi kebutuhan telur yang sangat diinginkan sebagai makanan sarapan.
Kekurangan telur ini terjadi setelah Donald Trump, mantan presiden AS, berjanji untuk menurunkan harga telur pada hari pertama menjabat. Namun, pada bulan Februari, harga telur malah meningkat sebesar 59% dibandingkan tahun lalu. Ini menjadi perhatian bagi banyak orang, termasuk restoran yang mulai mengenakan biaya tambahan untuk telur.
Krisis telur ini juga disertai dengan serangkaian tarif yang dikenakan AS terhadap berbagai barang, serta ancaman dari Trump untuk menerapkan sanksi ekonomi jika Denmark tidak menyerahkan Greenland kepada AS. Permintaan telur dari AS menunjukkan betapa seriusnya situasi ini, meskipun harga telur yang tinggi telah memicu kekhawatiran akan kemungkinan penipuan harga di kalangan produsen telur.
Asosiasi Telur Denmark menyatakan bahwa mereka akan menyelidiki permintaan ini, namun menegaskan bahwa saat ini tidak ada surplus telur di Eropa. Hal ini berarti, meskipun ada permintaan yang tinggi dari AS, Denmark mungkin tidak dapat memenuhi permintaan tersebut karena keterbatasan pasokan.
"Kami akan melihat apa yang bisa kami lakukan, tetapi situasinya tidak mudah," kata perwakilan dari Asosiasi Telur Denmark.
Dengan kondisi ini, banyak orang bertanya-tanya bagaimana AS akan mengatasi kekurangan telur ini dan apakah mereka akan mencari sumber lain di luar Denmark dan Eropa. Krisis telur ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan perdagangan antara negara-negara dan dampaknya terhadap konsumen di seluruh dunia.
AS Denmark telur flu burung permintaan