Israel baru-baru ini meluncurkan serangkaian serangan udara di Jalur Gaza, menargetkan apa yang dikatakannya sebagai sasaran Hamas. Serangan ini berlangsung setelah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan berakhir secara tiba-tiba.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 300 warga Palestina, termasuk banyak anak-anak, tewas akibat serangan udara ini. Situasi ini menimbulkan keprihatinan besar di kalangan masyarakat internasional.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa dia telah memerintahkan serangan ini karena tidak ada kemajuan dalam pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata. Kantor Netanyahu menyatakan frustrasinya karena Hamas menolak untuk membebaskan sandera yang mereka ambil saat serangan teroris pada 7 Oktober 2023.
Pemerintah Amerika Serikat melalui White House mengonfirmasi bahwa Israel telah berkonsultasi dengan mereka sebelum meluncurkan serangan ini. Hal ini menunjukkan bahwa situasi di kawasan tersebut sangat kompleks dan melibatkan banyak pihak.
Seorang pejabat senior dari Hamas mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Israel dengan sepihak mengakhiri kesepakatan gencatan senjata, dan kelompok tersebut menuduh Israel melanjutkan agresi terhadap warga sipil Palestina di Gaza.
Serangan ini merupakan kelanjutan dari tindakan militer Israel yang dimulai sebagai respons terhadap serangan teroris Hamas pada 7 Oktober. Meskipun kedua belah pihak sempat menyetujui gencatan senjata pada 19 Januari, di mana Hamas membebaskan sandera Israel sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina oleh Israel, gencatan senjata ini sekarang terancam berakhir.
Sementara itu, dunia terus mengawasi perkembangan situasi ini dengan harapan agar perdamaian dapat segera terwujud dan tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan.
Israel Gaza serangan udara Hamas gencatan senjata