Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melakukan pembicaraan telepon selama satu jam dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. Dalam pembicaraan yang dianggap "sangat baik" ini, kedua pemimpin membahas beberapa isu penting, termasuk kepemilikan kemungkinan pembangkit listrik nuklir Ukraina oleh AS.
Menurut pernyataan dari Gedung Putih, pembicaraan ini juga menyentuh tentang fasilitas nuklir Zaporizhzhia yang saat ini dikuasai oleh Rusia. Namun, Zelensky menegaskan bahwa diskusi tersebut hanya berkaitan dengan fasilitas yang berada di tangan Rusia tersebut, dan bukan tentang kepemilikan seluruh pembangkit listrik nuklir di Ukraina.
Zelensky juga menyatakan keyakinannya bahwa "perdamaian yang langgeng dapat dicapai tahun ini" di bawah kepemimpinan Trump. Hal ini menunjukkan harapan dari Ukraina untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan dengan Rusia.
Pembicaraan antara Trump dan Zelensky ini merupakan yang pertama sejak pertemuan mereka yang tegang di Ruang Oval bulan lalu. Selain itu, Trump juga sempat berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, minggu ini. Namun, meskipun ada dukungan dari Ukraina dan AS, Putin menolak proposal untuk menghentikan konflik secara luas saat mereka berbicara pada hari Selasa.
Pembicaraan ini menjadi penting karena melibatkan isu-isu berkaitan dengan keamanan energi dan geopolitik. Kedua negara, AS dan Ukraina, berusaha untuk memperkuat posisi mereka dalam menghadapi ancaman dari Rusia.
Dalam konteks ini, ada keyakinan dari pihak AS bahwa kepemilikan pembangkit listrik nuklir Ukraina oleh mereka akan menjadi "perlindungan terbaik" bagi Ukraina. Namun, pandangan mengenai hal ini masih perlu dibahas lebih lanjut serta melibatkan banyak pihak.
Dengan situasi yang terus berkembang, perhatian dunia akan tertuju pada langkah-langkah selanjutnya yang diambil oleh AS, Ukraina, dan Rusia dalam mencari solusi untuk konflik yang ada.
Presiden AS Ukraina pembicaraan telepon nuklir Trump Zelensky