Jakarta, 5 April 2025 – Sebuah laporan terbaru mengungkap rencana besar dari DOGE untuk memecat puluhan ribu karyawan di Departemen Veteran Amerika Serikat (VA). Laporan tersebut datang dari WIRED, yang memberikan informasi lebih lanjut tentang operatif DOGE yang berusaha menyusup dan mengubah lembaga tersebut.
Menurut sumber yang berada di dalam VA, delegasi DOGE terdiri dari beberapa nama penting, di antaranya Sahil Lavingia, Cary Volpert, dan Christopher Roussos. Ketiga individu ini memiliki latar belakang di bidang teknologi, namun tidak memiliki pengalaman kerja yang relevan dengan skala atau kompleksitas lembaga VA.
Sahil Lavingia, yang merupakan CEO dari perusahaan Gumroad, mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mencapai stabilitas finansial dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ia mengatakan bahwa mereka telah "menggantikan setiap proses manual dengan proses otomatis, dengan membebankan semua biaya tambahan kepada pelanggan, dan hampir tidak memiliki karyawan."
Sumber di VA mengatakan bahwa Lavingia berusaha untuk memperkenalkan alat AI yang dapat menulis kode untuk lembaga tersebut. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa karyawan VA yang saat ini bekerja. Mereka merasa bahwa penerapan teknologi semacam itu dapat mengancam pekerjaan mereka dan cara kerja lembaga.
Menanggapi pertanyaan dari WIRED, Lavingia menjawab melalui email dengan mengatakan, "Maaf, saya tidak akan menjawab ini, selain mengatakan bahwa saya tidak dibayar. Dan saya adalah penggemar karya Anda!"
Dengan rencana yang ambisius ini, banyak yang bertanya-tanya bagaimana perubahan ini akan mempengaruhi layanan yang diberikan kepada veteran di AS. Sementara teknologi terus berkembang, penting bagi lembaga seperti VA untuk mempertimbangkan dampak dari pengurangan karyawan dan pengenalan teknologi baru di dalam sistem mereka.
DOGE VA pengurangan karyawan teknologi AI