Seorang petualang asal Inggris, Camilla Hempleman-Adams, baru-baru ini mengalami kritik tajam setelah mengklaim dirinya sebagai wanita pertama yang menyusuri Pulau Baffin, pulau terbesar di Kanada, sendirian. Dalam perjalanan yang dilakukan pada bulan Maret, Hempleman-Adams menempuh jarak 150 mil atau 241 kilometer dengan berjalan kaki dan bermain ski.
Sebelum berangkat, ia menulis di media sosial bahwa tidak ada catatan sejarah tentang wanita yang melakukan perjalanan serupa sendirian. Namun, klaim tersebut langsung mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat Inuit, penduduk asli yang tinggal di wilayah tersebut. Gayle Uyagaqi Kabloona, seorang anggota komunitas Inuit di Ottawa, menyatakan bahwa klaim itu sangat menyakitkan bagi mereka. "Orang-orang di sini telah melintasi rute yang sama selama beberapa generasi," katanya. Kabloona juga menambahkan bahwa pernyataan Hempleman-Adams mencerminkan sikap kolonial yang berbahaya.
Setelah mendapat banyak kritik, Hempleman-Adams mengeluarkan permohonan maaf atas pernyataannya yang dianggap menyinggung komunitas adat. Ia mengungkapkan rasa hormat yang dalam terhadap tanah, masyarakat, dan sejarah mereka. "Saya sangat menghargai tempat ini dan orang-orangnya," ujarnya.
Kritik terhadap klaim Hempleman-Adams menunjukkan pentingnya menghargai sejarah dan budaya masyarakat adat. Kabloona berharap untuk merayakan perjalanan tradisional keluarganya melalui Nunavut, sebuah langkah yang menunjukkan bahwa setiap perjalanan memiliki makna dan latar belakang yang dalam.
Sebagai catatan, Pulau Baffin terletak di Nunavut, wilayah yang dikenal dengan keindahan alamnya dan budaya Inuit yang kaya. Masyarakat Inuit telah lama hidup dengan cara yang berkelanjutan dan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang tanah dan lingkungan mereka.
Pulau Baffin Camilla Hempleman-Adams Inuit kritik petualangan