Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menekankan betapa pentingnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan perang tarif di seluruh dunia. Ia menyebut APBN sebagai shock absorber atau penyangga yang dapat membantu mengatasi berbagai guncangan ekonomi, terutama yang berasal dari luar negeri.
Dalam penjelasannya, Sri Mulyani menegaskan bahwa APBN bukan hanya sekadar anggaran, tetapi juga menjadi salah satu instrumen utama dalam pengelolaan ekonomi nasional. Dengan adanya APBN, pemerintah dapat lebih mudah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, Sri Mulyani juga memberikan perhatian khusus terhadap kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat. Kebijakan tersebut bertujuan untuk melindungi dan meningkatkan kinerja ekonomi AS, namun menurut Sri Mulyani, langkah ini bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar ilmu ekonomi yang seharusnya mengedepankan perdagangan bebas.
Meskipun pada bulan Maret 2025 realisasi APBN mengalami defisit sebesar Rp104,2 triliun, Sri Mulyani menyatakan bahwa keseimbangan primer masih mencatatkan surplus sebesar Rp17,5 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada defisit, pemerintah masih mampu mengelola anggaran dengan baik, dan ini merupakan prestasi mengingat target defisit keseimbangan primer ditetapkan sebesar Rp63,3 triliun.
Untuk mendapatkan informasi lebih mendalam mengenai pembahasan ini, masyarakat dapat menyaksikan program Market Review bersama Prasetyo Wibowo pada hari Kamis, 10 April 2025, pukul 21.00 hingga 21.30 WIB. Acara ini dapat disaksikan secara langsung di IDX Channel melalui beberapa platform televisi seperti MNC VISION, MNC PLAY, dan INDI HOME, serta melalui live streaming di www.idxchannel.com dan aplikasi IDX Channel TV.
Sri Mulyani APBN ekonomi defisit kebijakan tarif