Di tahun yang penuh gejolak ini, banyak orang bertanya-tanya apakah libur Jumat Agung akan membawa keuntungan bagi para investor. Libur ini jatuh pada hari Jumat minggu ini, dan selama hari itu, dua pasar saham utama, yaitu New York Stock Exchange dan Nasdaq, akan tutup. Begitu juga dengan pasar obligasi, yang akan tutup lebih awal pada hari Kamis, yang dikenal sebagai Maundy Thursday atau Hari Kamis Suci dalam kalender Kristen, pada pukul 2 siang waktu setempat.
Secara historis, minggu yang mencakup Jumat Agung telah menjadi minggu yang positif bagi para investor. Sejak tahun 1980, indeks S&P 500 rata-rata mengalami kenaikan sebesar 0,9%. Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami kenaikan rata-rata sebesar 0,85%, dan indeks Nasdaq Composite naik sebesar 1,3%. Data ini berdasarkan informasi dari StockTradersAlmanac.com dan akun @AlmanacTrader.
Jika dibandingkan dengan rata-rata kenaikan mingguan lainnya, yaitu 0,19% untuk S&P 500 dan Dow, serta 0,24% untuk Nasdaq, angka-angka ini menunjukkan bahwa minggu menjelang Jumat Agung memang istimewa.
Pada hari Kamis sebelum Jumat Agung, perdagangan juga memberikan hasil yang positif bagi indeks-indeks utama. Rata-rata, S&P 500 naik sebesar 0,38% sejak tahun 1980, Dow naik 0,3%, dan Nasdaq naik 0,46%. Jika dibandingkan dengan rata-rata kenaikan harian lainnya, yang hanya 0,04% untuk S&P 500 dan Dow, serta 0,05% untuk Nasdaq, angka ini menunjukkan bahwa hari Kamis sebelum Jumat Agung juga memiliki potensi positif.
Namun, para analis pasar berhati-hati dalam menginterpretasikan data tersebut tahun ini. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir, terutama terkait dengan rencana tarif Presiden Donald Trump dan pengumuman harian yang datang dari presiden atau anggota pemerintahannya.
Dengan semua informasi ini, investor harus tetap waspada dan tidak terlalu mengandalkan tren historis. Pasar saham selalu dapat berubah dengan cepat, dan keputusan investasi harus dilakukan dengan hati-hati.
libur Jumat Agung investor pasar saham S&P 500