Kelompok diaspora Sudan semakin bersatu untuk menyerukan boikot konsumen terhadap Uni Emirat Arab (UEA). Mereka menuduh negara itu terlibat dalam konflik yang merusak di Sudan dan berperan dalam genosida.
Keterlibatan UEA dalam perang di Sudan sedang mendapat banyak sorotan. Berbagai jurnalis, organisasi hak asasi manusia, dan para ahli PBB mulai mengungkap bagaimana UEA memberikan dukungan material kepada Pasukan Dukungan Cepat (RSF). RSF adalah sebuah kelompok paramiliter yang memiliki catatan buruk terkait kekerasan seksual, kejahatan perang, dan pembunuhan yang bermotif etnis.
Para ahli juga mengungkapkan bahwa UEA memiliki akses yang luas terhadap tanah, mineral, dan ternak di Sudan berkat hubungan mereka dengan RSF. Hal ini semakin memperuncing situasi di negara yang sudah dilanda konflik ini.
Pemerintah Amerika Serikat telah menuduh RSF melakukan genosida di wilayah barat Darfur dan menjatuhkan sanksi kepada pemimpin mereka, Mohamed Hamdan Dagalo, yang lebih dikenal dengan nama Hemeti. Pada awal bulan ini, pemerintah Sudan membawa UEA ke Mahkamah Internasional, menuduh mereka melanggar Konvensi Genosida. Namun, UEA membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak memberikan senjata atau dukungan lain kepada RSF.
Nas Al Sudan, sebuah organisasi yang fokus pada advokasi dan kampanye bantuan, menjelaskan bahwa keterlibatan UEA dalam perang dan eksploitasi sumber daya di Sudan telah menjadi masalah yang terus-menerus menghantui negara ini dan kawasan sekitarnya.
Seorang aktivis dari kelompok tersebut yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan, "Saya pikir masalah ini sudah berlangsung lama di seluruh Afrika. Sudan dan rakyat Sudan sudah lama mengetahui bahwa sumber daya mereka tidak dikelola di dalam negeri."
Aktivis tersebut juga menambahkan bahwa strategi boikot kini semakin menonjol seiring dengan memburuknya konflik. Awalnya, banyak kelompok diaspora Sudan lebih fokus pada pertanyaan-pertanyaan seperti, "Bagaimana cara mengeluarkan keluarga saya? Bagaimana memastikan orang-orang aman?" saat perang dimulai pada April 2023, ketika RSF dan tentara Sudan mulai bertarung mengenai rencana penggabungan paramiliter ke dalam militer.
Dengan meningkatnya kesadaran akan keterlibatan UEA dalam konflik ini, boikot konsumen kini menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menekan negara tersebut agar menghentikan dukungannya terhadap RSF.
Sudan UEA boikot konflik genosida RSF