Chatbot bernama Grok yang dikembangkan oleh perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, mengalami masalah teknis pada hari Rabu. Grok, yang bersaing dengan chatbot lain seperti ChatGPT dari OpenAI, terintegrasi langsung dengan platform media sosial X yang juga dimiliki oleh Musk.
Dalam beberapa contoh yang ditemukan, Grok memberikan jawaban yang tidak relevan dengan topik yang ditanyakan oleh pengguna. Misalnya, saat pengguna bertanya tentang perubahan nama platform streaming HBO Max atau pemotongan Medicaid yang diusulkan oleh pembuat undang-undang AS, Grok sering kali kembali membahas tentang genocide putih di Afrika Selatan tanpa ada pertanyaan yang memicu.
Kata "boer" muncul dalam banyak jawaban Grok. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada orang-orang dari Afrika Selatan yang memiliki keturunan Belanda, Jerman, atau Huguenot. Seringkali, istilah ini digunakan oleh orang kulit hitam Afrika Selatan sebagai ejekan terhadap orang Afrikaans kulit putih yang terkait dengan rezim apartheid.
Contohnya, ketika ditanya tentang gaji pemain Toronto Blue Jays, Max Scherzer, Grok malah menjelaskan tentang genocide putih dan sebuah lagu kontroversial anti-apartheid dari Afrika Selatan.
Hingga saat ini, belum jelas apa yang menyebabkan Grok mengalami masalah tersebut. X dan xAI tidak segera memberikan komentar mengenai hal ini. Elon Musk, yang berasal dari Afrika Selatan, sebelumnya telah mengklaim bahwa ada fraksi-fraksi dalam pemerintah Afrika Selatan yang "secara aktif mempromosikan genocide putih." Musk juga menyatakan bahwa perusahaan layanan internetnya, Starlink, tidak dapat beroperasi di Afrika Selatan "hanya karena saya tidak berkulit hitam."
chatbot Grok xAI Elon Musk genocide putih