Sebuah penelitian terbaru dari Universitas Stirling mengungkapkan bahwa standar kecantikan tidaklah universal dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya seseorang. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana individu dari budaya yang berbeda, yaitu orang Inggris Putih dan Jepang Timur, menilai wajah pria berdasarkan femininity dan masculinity.
Di dalam penelitian ini, peserta dari Jepang menunjukkan preferensi yang lebih kuat terhadap fitur wajah yang feminin dibandingkan dengan peserta dari Inggris. Hal ini terlihat jelas terutama ketika mereka menilai wajah pria. Penelitian ini menggunakan dua metode eksperimen yang berbeda. Metode pertama adalah metode pilihan paksa, di mana peserta harus memilih antara versi wajah yang lebih maskulin dan yang lebih feminin. Metode kedua adalah tugas interaktif, di mana peserta dapat menyesuaikan tingkat maskulinitas dan femininitas menggunakan slider.
Hasil dari metode interaktif menunjukkan preferensi yang bahkan lebih kuat terhadap wajah feminin dibandingkan dengan metode pilihan paksa. "Perbedaan dalam preferensi ini sangat terlihat ketika menilai wajah pria," kata para peneliti, menyoroti bahwa konsep budaya mengenai maskulinitas ideal ternyata bervariasi jauh lebih besar dari yang sebelumnya dipahami.
Meskipun kedua budaya menunjukkan preferensi umum terhadap fitur wajah feminin, yang sering dikaitkan dengan sifat seperti kehangatan dan keterhubungan, peserta Jepang memberikan rating yang jauh lebih tinggi terhadap wajah pria yang feminin dibandingkan peserta dari Inggris.
Temuan ini menunjukkan bahwa fitur wajah feminin secara universal menandakan sifat sosial yang positif, namun konteks budaya menentukan seberapa besar kita menghargai karakteristik ini dalam calon pasangan. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana pandangan kita terhadap kecantikan dan ketertarikan dapat dipengaruhi oleh budaya tempat kita berasal.
standar kecantikan budaya wajah pria Jepang Inggris