Pada Rabu, 11 Juni 2025, Penerbang TNI Angkatan Udara (AU) dan Royal Thai Air Force (RTAF) melaksanakan Latihan Bersama atau Latma Elang Thainesia XX/25. Latihan ini bertujuan untuk menguji kemampuan tempur udara kedua negara dalam skenario yang disebut Dissimilar Basic Fighter Maneuver (DBFM).
Dalam latihan ini, berbagai jenis pesawat tempur dari kedua angkatan udara saling beradu. Pesawat yang digunakan oleh TNI AU adalah empat unit T-50i, sedangkan RTAF menurunkan dua unit F-16 dan dua unit T-50TH. Setiap penerbang ditantang untuk melakukan pertempuran satu lawan satu, di mana mereka harus mengatasi pesawat dari jenis yang berbeda.
Tujuan dari latihan ini adalah untuk mengasah kemampuan manuver dan pengambilan keputusan para penerbang. Selain itu, mereka juga dilatih untuk mengembangkan strategi tempur secara langsung di udara. Skenario DBFM ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan analisis situasi dan ketajaman insting tempur, serta adaptasi terhadap keunggulan dan kelemahan pesawat lawan.
Selama simulasi pertempuran, para penerbang harus dapat memaksimalkan kinerja pesawat mereka, sambil mengurangi kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh lawan. Hal ini penting untuk memberikan pengalaman nyata dalam pertempuran udara.
Latma Elang Thainesia XX/25 diharapkan dapat mempererat kerja sama antara TNI AU dan RTAF. Selain itu, latihan ini juga bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme dan kemampuan tempur para penerbang dari kedua negara.
Menurut Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, S.E., M.M., latihan ini sejalan dengan tekad untuk mewujudkan TNI AU yang Adaptif, Modern, Profesional, Unggul, dan Humanis. Ia menegaskan, "TNI Angkatan Udara - Jauh di Langit Dekat di Hati."
Latihan bersama ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat kerjasama pertahanan antara Indonesia dan Thailand, serta meningkatkan kesiapan tempur kedua angkatan udara.
Latma Elang Thainesia TNI AU RTAF kemampuan tempur pertempuran udara