Selama lebih dari satu dekade, Tim Friede, seorang pria berusia 57 tahun dari Richfield, Wisconsin, telah mengumpulkan ular berbahaya di rumahnya. Ia melakukan eksperimen dengan cara memerah racun ular dan menyuntikkan diri dengan racun tersebut. Tujuannya adalah untuk mengimunisasi dirinya terhadap gigitan ular paling mematikan di dunia. "Saya hanya ingin tahu apakah saya bisa mengatasi gigitan tersebut," ujar Friede.
Sekarang, darah Friede telah digunakan untuk menciptakan prototipe antivenom universal. Setiap tahun, lebih dari dua juta orang di seluruh dunia mengalami gigitan dari ular berbisa, dan lebih dari 100.000 orang meninggal karena racun yang dapat merusak jaringan, melumpuhkan otot, atau menghentikan jantung.
Antivenom yang ada saat ini hanya efektif melawan spesies ular tertentu atau ular yang berkerabat dekat. Namun, antivenom baru yang dijelaskan dalam jurnal Cell pada bulan Mei lalu dapat memberikan perlindungan penuh kepada tikus terhadap dosis racun mematikan dari 13 spesies ular berbahaya, termasuk ular mamba hitam dan ular king cobra. Selain itu, antivenom ini juga memberikan perlindungan sebagian terhadap racun dari enam spesies ular lainnya.
Para penulis studi, Jacob Glanville, pendiri dan CEO Centivax yang berbasis di San Francisco, serta Peter Kwong, seorang peneliti vaksin di Universitas Columbia, telah mempelajari vaksin yang menargetkan beberapa strain virus selama bertahun-tahun. Mereka berusaha untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam menciptakan antidote gigitan ular universal ketika Glanville mendengar tentang Friede.
Friede sendiri telah digigit oleh lebih dari 16 spesies ular dan mengaku mengalami syok anaflaksis sebanyak dua belas kali. "Saya sangat ingin mendapatkan darah Anda," kenang Glanville saat berbicara tentang mantan pekerja konstruksi tersebut.
Tim Friede antivenom ular berbisa vaksin gigitan ular