Pada tahun 1940, seorang fisikawan terkenal bernama John Archibald Wheeler mengemukakan sebuah ide yang sangat aneh dan menarik tentang dunia fisika. Ia membayangkan bahwa semua elektron yang ada di tubuh manusia, di udara yang kita hirup, bahkan di galaksi yang paling jauh, sebenarnya adalah satu elektron yang sama. Elektron ini terus bergerak melalui waktu dan ruang, mengikuti jalur yang sangat rumit dan berkelok-kelok.
Dalam teori ini, jika elektron tersebut bergerak maju, maka kita melihatnya sebagai elektron biasa. Tapi jika ia bergerak mundur, maka ia berubah menjadi positron, yaitu pasangan elektron yang bermuatan berlawanan. Wheeler menyebut ide ini sebagai "universitas satu elektron" karena semua elektron di alam semesta sebenarnya adalah satu partikel tunggal yang terus berulang melalui waktu.
Ide ini muncul dari fakta bahwa semua elektron memiliki massa, muatan, dan spin yang sama. Mereka tidak bisa dibedakan satu sama lain. Wheeler beranggapan bahwa jika ini benar, maka elektron itu sudah sangat tua dan telah melewati seluruh alam semesta berkali-kali sejak awal terbentuknya alam semesta.
Fisika terkenal lainnya, Richard Feynman, tertarik dengan gagasan ini. Ia menggunakan konsep ini untuk menjelaskan positron sebagai elektron yang berjalan mundur di waktu, sebuah ide yang menjadi bagian penting dalam teori elektromagnetik kuantum. Namun, teori ini memiliki kekurangan besar. Di alam semesta kita, jumlah elektron jauh lebih banyak daripada positron, yang menunjukkan bahwa teori ini tidak sepenuhnya benar.
Wheeler sendiri menyindir bahwa positron yang hilang mungkin tersembunyi di dalam proton, partikel yang membentuk inti atom. Meskipun hampir pasti salah, ide satu elektron ini tetap menjadi contoh betapa beraninya pemikiran dalam fisika kuantum. Saat ini, ilmuwan menjelaskan elektron sebagai getaran dari sebuah medan tunggal yang meliputi seluruh alam semesta, tanpa perlu berpikir tentang jalur waktu yang berbelit.
Namun, ide Wheeler tetap penting karena menunjukkan bahwa dalam ilmu pengetahuan, ide-ide yang sangat spekulatif pun bisa memicu kreativitas dan membuka jalan baru dalam pemahaman kita tentang alam semesta. Bahkan yang tampaknya tidak masuk akal sekalipun, bisa menginspirasi ilmuwan dan generasi berikutnya untuk terus berimajinasi dan mencari jawaban atas misteri terbesar di alam semesta.
elektron fisika kuantum teori satu elektron alam semesta waktu positron Wheeler Feynman