Breaking News
    Tidak Ada Level Aman Minum Alkohol untuk Jaga Kesehatan Otak     Labour Partai Akan Suarakan Deklarasi Genosida Israel di Gaza     Ubah Pola Pikir, Ubah Nasib: Kunci Menuju Kehidupan Lebih Baik     Mensesneg Prasetyo Cari Solusi Setelah Kartu Identitas Wartawan Dicabut    

Fenomena Jōhatsu: Orang Jepang Menghilang Secara Diam-diam karena Tekanan Sosial

Di Jepang, ada fenomena yang cukup unik dan menyedihkan. Setiap tahun, sekitar 100.000 orang menghilang secara diam-diam, bukan karena kejahatan atau kecelakaan, tetapi karena mereka memilih untuk menghilang. Fenomena ini dikenal dengan istilah jōhatsu, yang berarti ‘penguapan’ atau ‘menghilang’. Mereka yang menghilang biasanya disebabkan oleh rasa malu, hutang, hubungan yang gagal, kekerasan dalam rumah tangga, atau tekanan besar dari masyarakat. Dalam budaya Jepang, kehilangan muka atau rasa malu bisa menjadi sangat berat, sehingga sebagian orang memilih untuk menghilang daripada menghadapi kegagalan atau rasa malu itu.

Fenomena ini menjadi lebih banyak setelah tahun 1990-an, saat ekonomi Jepang mengalami keruntuhan besar. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan tidak mampu kembali ke rumah mereka. Ada juga yang menggunakan jasa perusahaan yang disebut yonige-ya, yang artinya ‘perusahaan bergerak malam’. Perusahaan ini membantu orang yang ingin menghilang dengan cara memindahkan mereka secara diam-diam, menyembunyikan alamat, mengatur sekolah untuk anak-anak, dan melindungi identitas baru mereka. Polisi di Jepang biasanya tidak mencari orang dewasa yang pergi secara sukarela karena undang-undang privasi yang ketat.

Orang yang menghilang seringkali mencari tempat yang aman di kota, seperti kawasan San’ya di Tokyo, yang terkenal dengan pekerjaan kasar dan kehidupan yang tidak terlihat oleh banyak orang. Banyak dari mereka hidup dalam kemiskinan dan rentan terhadap eksploitasi oleh kelompok kriminal atau kerja berbahaya, seperti membersihkan lokasi bencana nuklir Fukushima. Beberapa dari mereka membangun identitas baru, menikah, atau memulai karier baru dengan nama samaran. Ada juga yang tetap hidup secara berpindah-pindah, tidak terikat dengan siapa pun, dan berada di pinggiran masyarakat.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan orang yang mereka cintai sangat menyakitkan. Karena hukum di Jepang tidak memudahkan pencarian, beberapa keluarga menyewa detektif swasta yang mahal, sementara yang lain hanya menunggu dan berharap. Banyak yang takut untuk mencari tahu karena malu atau takut dihukum jika ditemukan kembali.

Fenomena jōhatsu ini masih jarang dibicarakan secara terbuka di Jepang. Tapi, kejadian ini mencerminkan betapa pentingnya kebebasan pribadi di Jepang, sekaligus tekanan sosial yang besar sehingga membuat orang merasa bahwa menghilang adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

library_books Science