Hitam tak lagi sekadar warna. Ia menjelma jadi bahasa duka, simbol luka, dan pengingat sejarah yang tak boleh dihapus. Dari tubuh-tubuh yang tumbang, dari suara-suara yang dibungkam, hitam hadir bukan hanya sebagai tanda kehilangan personal, melainkan sebagai penanda luka kolektif bangsa yang masih belum sembuh.
Dalam hitam kita melihat Sumarsih berdiri tegap di depan istana, Munir yang diracun di udara, hingga Salim Kancil yang nyawanya direnggut di tanah kelahirannya. Hitam itu kini melekat di tubuh kita semua, menjadi saksi bahwa ada tanggung jawab sejarah yang belum selesai, ada suara-suara yang masih harus diperjuangkan, meski gelap terus membayang.
sejarah perjuangan luka bangsa Indonesia simbol hitam